Buka Puasa Bersama STARKI: Mitra dalam Kemanusiaan

03 Juni 2019

JIKA umat manusia tidak bisa bersaudara seagama, mereka bisa menjadi mitra dalam kemanusiaan. Bangsa Indonesia tidak bisa menolak keberagaman suku-suku dalam kehidupan berbangsa. “Supaya kita bisa saling mengenal, kita harus memperjuangkan kebersamaan karena NKRI itu sudah harga mati”. Demikian penegasan Ustaz Muklis Soleh dalam khotbah Buka Puasa Bersama Sekolah Tinggi Tarakanita (STARKI) di Aula STARKI Kompleks Billy & Moon, Pondok Kelapa, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.

Sebelum khotbah, para peserta Buka Puasa Bersama STARKI 2019 yang terdiri dari Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa STARKI yang beragama Islam mengadakan Tadarus Alquran. Tampak hadir dalam acara ini Ketua RW, Ketua RT setempat juga Waket II Bidang Administrasi dan Keuangan Sr Yasinta Ariati CB, S.Psi., M.Si., Waket III Bidang Kemahasiswaan Sr Lucia Yeni Wijayatri CB, S.Pd., M.Hum., Sr Salesia CB dari Yayasan Pendidikan Tinggi Tarakanita, perwakilan dosen, karyawan serta mahasiswa STARKI yang lain.

Selain berbicara tentang mitra dalam kemanusiaan, Ustaz Muklis Soleh memberikan contoh-contoh kongkrit. Misalnya dalam masa puasa, menurut Ustaz Muklis banyak orang sensitif. Orang sensitif biasanya dipengaruhi oleh tiga hal salah satunya karena dalam keadaan lapar. Orang lapar biasanya gampang emosi. Yang kedua, orang yang sedang mengantuk. Orang mengantuk akan mudah emosi. Oleh karena itu, orang jangan main-main dengan orang yang sedang mengantuk. Dan yang terakhir adalah orang mudah sensitif karena sedang sakit. “Oleh karena itu kalau ada orang sakit, sebaiknya harus cepat ditengok karena kita harus peduli dan jangan sembarangan berbicara dengan orang sakit karena juga akan mudah cepat emosi,” ujarnya.

Selain berbicara tentang orang sensitif, Ustaz Muklis juga mengingatkan kepada para peserta Buka Puasa Bersama STARKI bahwa apabila manusia semakin tua diharapkan bisa semakin bertambah prestasi kebaikan, ketaatan, juga amal ibadahnya. Dalam kebaikan manusia sebaiknya tidak pilih-pilih dalam menolong orang. Misalnya jika ada kecelakaan, umat tidak usah membicarakan latar belakang agama yang ditolong. “Kita harus menolong umat manusia apapun agamanya,” katanya.  

Berbicara tentang masa puasa yang sedang dijalani para peserta Buka Puasa Bersama STARKI, Ustaz Muklis juga mengingatkan bahwa puasa dapat melatih manusia untuk mengendalikan diri. Usaha pengendalian diri itu sebaiknya diteruskan sampai semua orang menjadi tua karena orang-orang tua harus bisa mengendalikan diri dalam makan. Orangtua tidak bisa seenaknya makan karena bisa mempengaruhi kesehatan tubuhnya. “Hidup harus sesuai kebutuhan jangan keinginan. Mari kita instropeksi, karena umur kita terbatas tidak akan selamanya hidup terus,” kata Ustaz Muklis. 

Sekali pamungkas khotbahnya, Ustaz Muklis menegaskan bahwa jika manusia tidak bisa menjadi saudara seagama, maka sebaiknya bisa menjadi rekan atau mitra dalam kemanusiaan. “Mari kita doakan Indonesia menjadi negeri yang kuat. NKRI bersatu dan negeri Indonesia menjadi maju,” pungkasnya.

Khotbah Ustaz Muklis berakhir setelah terdengar kumandang adzan Maghrib. Para peserta Buka Puasa Bersama STARKI kemudian menikmati snack dan minuman untuk memulai Buka Puasa. Usai itu mereka mengadakan Salat Berjamaah. Setelah menunaikan rukun Islam yang kedua ini, mereka kemudian berbuka puasa bersama dengan menyantap makanan yang disediakan Panitia Buka Puasa Bersama STARKI.

ANS

Read 129 times Last modified on Jumat, 14 Juni 2019 11:17
Login to post comments

Newsletter

Make sure you dont miss interesting happenings by joining our newsletter program.

Hubungi Kami

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk menghubungi staff kami.

  • SMS/ WhatsApp/ Line : 081285386710, 081285386725
  • Telp : 021-8649870, 8651764, 8651765 ext. 606
  • Fax : 021-8642115
  • Email: info@starki.id
  • Koordinat GPS Kampus 1 - 6°14'08.0"S 106°55'49.5"E
  • Koordinat GPS Kampus 2 - 6°11'40.6"S 106°49'00.1"E

Sosial Media

Kunjungi kami di sosial media untuk tetap terhubung.