Menghadapi Pemilu 2019, STARKI Gelar "Seminar Anti Golput”

22 Maret 2019

MENDEKATI hari pemilihan umum (Pemilu) 2019 baik pemilihan calon legislatif maupun calon presiden yang akan digelar pada 17 April 2019, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari (STIKS) Tarakanita atau Sekolah Tinggi Tarakanita (STARKI) menggelar “Seminar Anti Golput” dengan menghadirkan dua pembicara dari Kerasulan Awam KWI Drs. Paulus Krissantono dan Stefanus Asat Gusma dimoderatori oleh Waket III Sr Lucia Yeni Wijayatri CB, S.Pd., M.Hum di di Aula Bintang Samudera, STARKI Komplek Kompleks Billy & Moon, Pondok Kelapa, Jakarta, Selasa sore, 19/3.

Sebelum memoderatori acara, Sr Lucia Yeni CB juga menyampaikan pesan-pesannya dalam kata sambutan. Ia memberikan gambaran tentang pilihan yang akan dipilih para mahasiswa dalam Pemilu nanti dan mengingatkan agar mahasiswa turut serta mencoblos dalam Pemilu nanti.

Di awal seminar, Stefanus Asat Gusma memulai seminar dengan pemaparan materi dengan mengangkat judul “Peran Milenial dalam Demokrasi”. Dalam paparannya ini, Stefanus meminta agar mahasiswa mengkroscek diri mereka dalam DPT. Ia berharap para mahasiswa sudah terdaftar dalam DPT tersebut supaya mereka bisa mencoblos. “Orang muda yang masih memiliki semangat muda dan tinggi semoga bisa membuat perubahan zaman menjadi lebih baik. Salah satu yang bisa dilakukan oleh orang muda dalam membuat perubahan itu dengan berpartisipasi dalam Pemilu,” ujarnya.

Menurut Stefanus, saat ini pemilih muda antara umur 17-35 tahun berjumlah sekitar 85 juta dan merupakan 44,5% dari pemilih total yang berjumlah 190,8 juta. Dari jumlah itu, suara orang muda juga bisa menjadi penentu pemenang Pemilu. Dalam sharingnya, Stefanus juga berharap agar orang muda ikut menjaga dan mempertahankan ideologi Pancasila karena pada zaman ini banyak orang yang memiliki ideologi lain yang berusaha mengganti ideologi negara Indonesia itu. Oleh karena itu, para mahasiswa diminta untuk bisa memilah-milah wakil yang akan dipilihnya dalam pemilihan calon legislatif.

Stefanus juga mengingatkan bahwa dalam pemilihan pada 17 April nanti para mahasiswa akan memilih Presiden & Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota bagi warga negara di luar Provinsi DKI Jakarta. Untuk melindungi hak para mahasiswa dalam Pemilu ini, Stefanus juga mengajak para mahasiswa untuk kroscek calon-calon yang akan dipilih dalam infopemilu.kpu.go.id dan kroscek DPT yang bisa diakses lewat website lindungihakpilihmu.kpu.go.id. Di akhir seminar, Stefanus Gusma berharap agar para mahasiswa, “Cerdas memilih! dan Jangan Golput sebab Pemilu itu Penting untuk kehidupan demokrasi bangsa,” pungkasnya.

Sedangkan pembicara kedua, Paulus Krissantono dalam pemaparannya membatasi diri dalam pembahasan tentang golongan putih (Golput). Ia lebih fokus mengangkat tema itu agar para mahasiswa jangan sampai ikut dalam Golput. Menurut Krissantono, Golput lahir sekitar tahun 1970. Pada waktu itu yang merintis gerakan ini adalah Arif Budiman dengan sebuah gerakan moral yang memrotes kepemerintahan Presiden Soeharto yang memaksa rakyat untuk memilih dalam Pemilu.

Gerakan Golput ini awalnya memakai tanda gambar putih dan mereka berpendapat bahwa memilih adalah hak asasi seseorang. Orang tidak bisa dipaksa untuk ikut memilih atau tidak memilih. Namun, lanjut Krissantono, istilah Golput untuk zaman sekarang diartikan sebagai langkah seseorang untuk tidak ikut memilih atau dia datang dalam Pemilu tetapi mencoblos tidak sesuai aturan atau nyoblosnya sembarangan sehingga pilihannnya dianggap tidak sah.

Menurut anggota Komisi Kerasulan Awam KWI ini, pada zaman 1970 ada pemaksaan untuk mencoblos, namun pada zaman sekarang, ancaman itu sudah tidak ada lagi. Kata Krissantono, pada saat ini langkah orang untuk Golput merupakan tindakan yang tidak bertanggungjawab karena orang sudah bebas memilih. Akan menjadi salah lagi, jika ada orang yang mengajak untuk Golput. Orang yang mengajak Golput, bisa terkena pasal pidana yang berujung penjara selama 3 tahun atau dengan 50 juta. “Oleh karena itu tolong jangan ajak-ajak orang untuk Golput karena bisa kena pidana. Selain itu, jika kita Golput maka akan terbuang sia-sia anggaran biaya pemilu yang sudah dikeluarkan,” ujarnya.

(ANS)

Read 105 times Last modified on Selasa, 26 Maret 2019 16:09
Login to post comments

Newsletter

Make sure you dont miss interesting happenings by joining our newsletter program.

Hubungi Kami

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk menghubungi staff kami.

  • SMS/ WhatsApp/ Line : 081285386710, 081285386725
  • Telp : 021-8649870, 8651764, 8651765 ext. 606
  • Fax : 021-8642115
  • Email: info@starki.id
  • Koordinat GPS Kampus 1 - 6°14'08.0"S 106°55'49.5"E
  • Koordinat GPS Kampus 2 - 6°11'40.6"S 106°49'00.1"E

Sosial Media

Kunjungi kami di sosial media untuk tetap terhubung.