Profesionalitas dalam Membangun Bangsa yang Bermartabat

26 Februari 2019

DALAM upacara wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari (STIKS) Tarakanita Program Sarjana Ilmu Komunikasi yang ke-VIII dan Wisuda XXV Program Diploma Tiga Sekretari di Gedung Manggala Wanabhakti, Sabtu (23/2), yang lalu, segenap civitas STIKS Tarakanita patut berbangga karena salah satu alumnusnya Risa Bhinekawati, SE., MBA., MIPP., Ph.D. berkenan mengisi Orasi Ilmiah. Ketua Program Studi S1 IPMI International Business School yang juga pendiri PT Bhineka Belitung Lestari ini mengangakat judul “Profesionalitas dalam Membangun Bangsa yang Bermartabat” dalam orasinya tersebut.

Berikut bahan lengkap orasi ilmiah yang dibawakan alumnus LPK Tarakanita angkatan 1987 ini di panggung Gedung Manggala Wanabhakti, Sabtu lalu:

Adalah suatu kehormatan yang luar biasa bagi saya untuk berada di sini, pada acara wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita.  Saya bangga, terharu dan bahagia karena wisuda ini mengingatkan saya pada saat 31 tahun yang lalu ketika saya juga lulus dari LPK Tarakanita saat itu.

Saya mengucapkan selamat kepada para wisudawati karena kita telah memilih sekolah yang tepat dan berhasil menyelesaikan berbagai pelajaran yang kita jalani selama masa kuliah.  Nilai-nilai dan ilmu yang kita dapatkan dari STIKS Tarakanita akan menjadi pondasi yang sangat kuat bagi hidup kita selanjutnya.

Wisuda kali ini mengusung tema “Profesionalitas dalam Membangun Bangsa yang Bermartabat”. Ada tiga konsep utama yang relevan dengan tema ini, yaitu 1) tantangan sumber daya manusia menghadapi era ekosistem digital, 2)  Profesionalitas lulusan STIKS Tarakanita, dan 3) Kontribusi lulusan STIKS Tarakanita dalam membangun bangsa yang bermartabat.

Bapak dan Ibu yang terhormat, para wisudawati yang saya kasihi,

Seperti kita ketahui bersama, saat ini seluruh dunia sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi evolusi industri ke arah ekosistem digital, yang saat ini sudah sampai di tahap industri 4.0. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, revolusi industri generasi pertama ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan. Lalu era generasi industri kedua, ditandai dengan penerapan konsep produksi masal dengan pemanfaatan tenaga listrik, dilanjutkan dengan generasi industri ketiga, dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri. Saat ini sebagian negara telah memasuki revolusi industri keempat, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya di seluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital yang diharapkan dapat menghasilkan efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik.

Dalam era industri 4.0 ini, VUCA menjadi keniscayaan.  VUCA, seperti yang dikembangkan oleh Benis dan Nanus (1986) merupakan suatu kondisi yang selalu berada dalam situasi volatile, uncertain, complex and ambiguous. Volatile adalah situasi dimana lingkungan menuntut kita untuk bereaksi secara cepat dalam menghadapi setiap perubahan yang sangat tidak bisa diprediksi. Uncertain, adalah suatu kondisi yang menuntut kita bertindak pada saat tidak ada kepastian. Complex, adalah lingkungan yang sangat dinamis dan saling terkait satu sama lain, dan ambigous adalah lingkungan yang tidak kita kenal dan di luar pengetahuan kita. Jadi VUCA adalah kondisi eksternal yang kita hadapi sehari-hari. 

Namun perlu saya sampaikan disini bahwa VUCA bukanlah hal yang baru bagi kita.  Bangsa kita sudah sangat terbiasa dengan volatility, uncertainty, complexity and ambiguity.  Masih sangat melekat diingatan kita ketika Indonesia sedang menjadi tuan rumah Asian Games, kita menghadapi gempa di Nusa Tenggara Barat.  Saat Asian Paragames, bencana alam di Palu menimpa kita. Bisa dibayangkan, bagaimana saudara-saudara kita harus mengambil keputusan pada kondisi tersebut. 

Dalam konteks masa depan industri dan ketenagakerjaan, era ekosistem digital akan memengaruhi jenis pekerjaan yang dilakukan oleh manusia dan mesin.  World Economic Forum (2018) mengeluarkan laporan yang membandingkan rasio penggunaan tenaga manusia dan mesin dalam berbagai jenis pekerjaan, antara tahun 2018 dan 2022.  Laporan tersebut menunjukkan bahwa mesin akan lebih banyak berperan dalam berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan pembuatan analisa dan pembuatan keputusan, melakukan koordinasi dan mengelola kegiatan, berkomunikasi dan beriteraksi, pengelolaan administrasi, mengidentifikasi dan mengevaluasi informasi yang sesuai dengan pekerjaan, melakukan kegiatan teknis yang kompleks, mencari dan mengumpulkan informasi yang sesuai dengan pekerjaan kita.  Secara rata-rata, mesin akan mengambil antara 10 sampai 20 persen dari pekerjaan kita dalam empat tahun ke depan.

Untuk mengantisipasi  pergeseran ini, perusahaan melakukan berbagai strategi untuk mengatasinya. Laporan World Economic Forum (2018) menunjukkan delapan strategi yang akan diambil perusahaan.  Strategi pertama adalah dengan merekrut staf permanen yang memiliki keahlian yang sesuai dengan teknologi baru. Kedua, perusahaan akan mencari cara untuk melakukan otomatisasi dari pekerjaan. Ketiga, perusahaan akan melatih kembali karyawan yang ada. Keempat, perusahaan berharap bahwa karyawan akan melatih diri sendiri agar keahlian mereka relevan dengan teknologi baru.  Kelima, perusahaan akan melakukan outsourcing atau meminta pihak ketiga untuk melakukan pekerjaan mereka. Keenam, perusahaan akan mempekerjakan pekerja temporer yang memiliki keahlian yang sesuai dengan tuntutan teknologi. Ketujuh, perusahaan akan memberikan pekerjaan kepada tenaga lepas yang mampu menangani pekerjaan dengan teknologi baru, dan pilihan terakhir adalah melakukan pemecatan pada pekerja yang tidak mempunyai kemampuan untuk menggunakan teknologi baru. Dari paparan ini dapat kita simpulkan bahwa pekerjaan akan tersedia bagi orang-orang yang mempunyai keahlian yang relevan dengan teknologi baru. Sehingga jika kita ingin terus mempunyai pekerjaan, kita harus selalu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Selain itu, perusahaan juga akan melakukan berbagai pertimbangan sebelum menentukan lokasi usaha.  Ada enam hal yang menjadi pertimbangan, yaitu ketersediaan sumber daya manusia, biaya tenaga kerja, biaya produksi, lokasi kantor pusat, kualitas rantai pasok, dan konsentrasi geografis.  Ketersediaan sumber daya manusia dan biaya tenaga kerja tetap menjadi pertimbangan utama bagi berbagai perusahaan dalam menentukan lokasi usahanya (World Economic Forum, 2018).

Hadirin yang saya hormati,

Mari kita beralih ke konsep yang kedua, yaitu profesi, profesional, profesionalitas dan profesionalisme.  Profesi adalah komunitas moral yang mempunyai cita-cita dan nilai bersama di bidang keilmuannya (Bartens, 2000; STIKS Tarakanita, 2018), sedangkan profesional adalah anggota profesi yang menguasai bidang keilmuannya.  Profesionalitas merupakan kualitas sikap para profesional (Bartens, 2000), dan profesionalisme menurut Van de Camp dan kawan kawan (2004) adalah sikap seorang profesional terhadap masyarakat umum (public professionalism), dirinya sendiri (intrapersonal professionalism), dan orang lain (interpresonal professionalism).

Bagaimana relevansi dari konsep profesionalitas dengan profesi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita? Kita dididik dan dilatih di STIKS Tarakanita untuk menjadi profesional di bidang komunikasi dan administrasi perkantoran.  Sepanjang perjalanan pendidikan kita di kampus yang kita cintai ini, nilai-nilai yang selalu ditanamkan kepada kita adalah Cc5 yang terdiri dari compassion atau bela rasa, competence atau kompetensi, creativity atau kreatifitas, community atau kekeluargaan dalam komunitas, celebration atau kegembiraan dalam merayakan keberhasilan, dan conviction atau keyakinan hidup (Sudarminta, 2018). Nilai-nilai ini sangatlah relevan dengan kondisi lingkungan saat ini, dan sangat penting dalam membangun profesionalisme dan profesionalitas kita dalam menghadapi era ekosistem digital nantinya.  Nilai-nilai dan keahlian yang didapatkan oleh mahasiswa STIKS Tarakanita diharapkan dapat menjadi daya saing para lulusannya, sejalan dengan pergeseran keahlian yang dibutuhkan dunia usaha, seperti yang ditemukan oleh World Economic Forum di atas.

Adapun sepuluh keahlian yang dibutuhkan di tahun 2020 meliputi kemampuan untuk memecahkan masalah yang kompleks, berpikir kritis, kreatifitas, mengelola sumber daya manusia, berkoordinasi dengan pihak lain, kecerdasan emosional, membuat penilaian dan keputusan, orientasi pada pelayanan, negosiasi dan kemampuan untuk beradaptasi dalam berbagai situasi. Jika dibandingkan dengan tahun 2015, ada dua keahlian yang tidak masuk dalam atau top skills di tahun 2020, yaitu pengawasan kualitas dan kemampuan untuk mendengarkan, yang digantikan kedudukannya oleh kecerdasan emosional dan kemampuan untuk beradaptasi dalam berbagai situasi (World Economic Forum, 2018).  Hal ini terjadi karena banyak pekerjaan pengawasan kualitas akan dilakukan oleh mesin, dan kemampuan mendengar secara aktif sudah termasuk dalam kecerdasan emosional.

Selanjutnya World Economic Forum (2018) juga menemukan sembilan keahlian yang berhubungan dengan pekerjaan, yang dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu kemampuan (abilities), keahlian dasar (basic skills) dan keahlian antar fungsi (cross-functional skills).  Seorang profesional dituntut untuk  memiliki kemampuan kognitif dan kemampuan fisik;  memiliki keahlian dasar baik secara teknis mupun proses; serta mempunyai keahlian antar fungsi, di antaranya keahlian untuk membangun modal sosial dan mengembangkan kompetensi dirinya dan orang lain untuk tujuan organisasi.

Bapak dan Ibu yang terhormat, para wisudawati yang tercinta,

Tibalah saatnya kita membahas tentang manusia bermartabat untuk membangun bangsa yang bermartabat. Menurut STIKS Tarakanita (2018), seorang profesional disebut bermartabat jika ia mencintai dirinya sendiri sebagai ciptaan Tuhan; serta mempunyai cita, rasa dan karsa untuk kebaikan sesama manusia dan memuliakan Tuhan.  Adapun bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang senantiasa memusatkan segala daya upaya dalam pembangunan berkesinambungan untuk kesejahteraan warga dan dunia.  Manusia yang bermartabat akan membangun bangsa yang bermartabat. 

Memiliki bangsa yang bermartabat merupakan cita-cita kita semua sebagai anak bangsa yang merdeka.  Manifestasi dari bangsa yang bermartabat telah dirumuskan oleh Ir Soekarno, proklamator kita, dalam konsep Trisakti yaitu “berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya.” Trisakti kemudian dipertajam lagi dengan konsep Nawacita yang dikembangkan oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo.  Kita semua sebagai profesional lulusan STIKS Tarakanita bisa memberikan nilai tambah demi terwujudnya bangsa Indonesia yang bermartabat.

Konsep Trisakti dan Nawacita atau negara yang bermartabat memang merupakan konsep yang sangat besar.  Bagaimana kita sebagai individu bisa mewujudkannya? 

Kita bisa memulainya dengan menyelaraskan cita-cita hidup kita dengan konteks yang lebih luas, yaitu konteks kita sebagai anak bangsa.  Sebagai ilustrasi, cita-cita saya saat masuk LPK Tarakanita adalah “saya ingin selalu berguna bagi nusa bangsa, dan saya ingin belajar sampai akhir hayat.” Cita-cita akan menjadi panduan hidup kita dalam menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan STIKS Tarakanita, yaitu compassion, competence, creativity, community, celebration, dan conviction dan juga memungkinkan kita untuk terus mempunyai kemampuan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam kasus pribadi saya,  sebenarnya setelah lulus SMA, saya langsung diterima di IPB dengan jalur prestasi, namun sebagai anak pertama, saya  merasa bertanggung jawab untuk tidak terlalu membebani orangtua dalam membiayai kuliah. Akhirnya saya memutuskan memilih LPK Tarakanita. Keputusan itu menjadi salah satu keputusan terbaik yang saya lakukan dalam hidup saya.

Di tingkat dua Tarakanita saya sudah bekerja sebagai sekretaris temporer.  Saya bekerja mulai jam 8 pagi hingga pukul 1 siang, dan kuliah di  kampus Pulo Raya mulai jam 2 siang. Berhubung di LPK Tarakanita saya juga menjadi anggota senat, otomatis saya  harus menggunakan waktu secara efektif karena harus membaginya untuk kuliah, kegiatan senat dan bekerja.  Di situlah saya melihat segalanya mungkin bagi kita, jika mau terus berusaha dan berdoa.  Apa yang saya alami dari LPK Tarakanita benar-benar memperkuat hidup saya.

Perjalanan dan perjuangan saya di jalur pendidikan terbilang panjang. Setamat dari LPK Tarakanita, saya melanjutkan S1 ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), kemudian mendapat gelar MBA dari Australian National University (ANU), lalu gelar Master of International Policy and Practice dari George Washington University, dan terakhir gelar Ph.D dari Australian National University. Dalam proses ini saya mendapatkan empat beasiswa kepemimpinan, tiga beasiswa  dari Pemerintah Australia dan satu dari George Washington University.

Selain berkesempatan melanjutkan sekolah, saya juga sempat menduduki beberapa posisi senior di berbagai perusahaan seperti di Unilever Indonesia, Ericsson Indonesia, Bank Danamon, maupun di beberapa posisi di institusi seperti Kedutaan Besar Amerika Serikat, UNDP, Masyarakat Telekomunikasi maupun  Asosisasi Serat Sintesis. 

Bagaimanapun tidak selamanya perjalanan yang saya lewati selalu mulus. Misalnya, saya harus membongkar disertasi S3 sesuai masukan dari penilai eksternal yang menyebabkan saya mengalami stres dan harus diterapi akupuntur. Namun dengan bantuan Tuhan dan dukungan serta doa suami, anak dan orang tua saya, semuanya dapat diatasi dengan baik.

Saat ini saya terus melanjutkan cita-cita saya dengan mengabdikan diri sebagai dosen sekolah tinggi manajemen di Jakarta dan menjadi wirausaha sosial untuk mengembangkan masyarakat dan melestarikan lingkungan hidup di Belitung. 

Bapak dan Ibu yang terhormat, para wisudawati yang tercinta,

Cita cita atau visi hidup kita akan menjadi pedoman untuk kita terus berjuang sampai akhir hayat. Setiap tindakan kita merupakan langkah dalam menguak takdir yang ditetapkan Tuhan khusus untuk kita.  Konsep bangsa yang bermartabat sangatlah besar dan kita merupakan komponen di dalamnya.  Jika kita bisa memecahkan masalah kita sendiri, dan juga membantu orang sekeliling kita, kita sudah ikut membangun Indonesia yang bermartabat.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa kita semua diberi Tuhan kesempatan untuk ikut membangun Indonesia yang sama-sama kita cintai. Hal ini bisa kita mulai dengan menemukan visi dan misi hidup kita, lalu kita lakukan karya terbaik sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita tidak perlu terlalu khawatir dengan VUCA, karena volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity adalah sebuah keniscayaan. Kita hadapi era ekosistem digital dengan penuh percaya diri bahwa kita punya kemampuan dan keahlian yang relevan. Dengan bekerja dan belajar sepenuh hati, Tuhan akan memberikan jalan dan selalu memberkati kita.

Akhir kata, terimalah ucapan selamat saya atas keberhasilan kalian menyelesaikan pendidikan di STIKS Tarakanita.  Jangan lupa berterima kasih kepada orang tua dan guru-guru kalian.  Jangan lupa berkabar, berkunjung, mencium tangan orang tua dan guru sebagai ungkapan rasa kasih kalian kepada orang-orang yang telah berjasa, yang memungkinkan kalian sampai di tahap ini.

Jadikan momen wisuda ini menjadi langkah awal dari jutaan langkah kalian menjadi profesional yang bermartabat.

Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua.

Terima kasih.

Risa Bhinekawati, SE, MBA, MIPP, PhD.

Read 594 times Last modified on Kamis, 28 Februari 2019 10:47
Login to post comments

Newsletter

Make sure you dont miss interesting happenings by joining our newsletter program.

Hubungi Kami

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk menghubungi staff kami.

  • SMS/ WhatsApp/ Line : 081285386710, 081285386725
  • Telp : 021-8649870, 8651764, 8651765 ext. 606
  • Fax : 021-8642115
  • Email: info@starki.id
  • Koordinat GPS Kampus 1 - 6°14'08.0"S 106°55'49.5"E
  • Koordinat GPS Kampus 2 - 6°11'40.6"S 106°49'00.1"E

Sosial Media

Kunjungi kami di sosial media untuk tetap terhubung.